Jumat, 02 November 2012

Fisiologi Tumbuhan


Difusi adalah peristiwa mengalirnya/berpindahnya suatu zat dalam pelarut dari bagian berkonsentrasi tinggi ke bagian yang berkonsentrasi rendah. Perbedaan konsentrasi yang ada pada dua larutan disebut gradien konsentrasi. Difusi akan terus terjadi hingga seluruh partikel tersebar luas secara merata atau mencapai keadaan kesetimbangan dimana perpindahan molekul tetap terjadi walaupun tidak ada perbedaan konsentrasi. Contoh yang sederhana adalah pemberian gula pada cairan teh tawar. Lambat laun cairan menjadi manis. Contoh lain adalah uap air dari cerek yang berdifusi dalam udara.Difusi yang paling sering terjadi adalah difusi molekuler. Difusi ini terjadi jika terbentuk perpindahan dari sebuah lapisan (layer) molekul yang diam dari solid atau fluida.

Osmosis adalah perpindahan air melalui membran permeabel selektif dari bagian yang lebih encer ke bagian yang lebih pekat. Membran semipermeabel harus dapat ditembus oleh pelarut, tapi tidak oleh zat terlarut, yang mengakibatkan gradien tekanan sepanjang membran. Osmosis merupakan suatu fenomena alami, tapi dapat dihambat secara buatan dengan meningkatkan tekanan pada bagian dengan konsentrasi pekat menjadi melebihi bagian dengan konsentrasi yang lebih encer. Gaya per unit luas yang dibutuhkan untuk mencegah mengalirnya pelarut melalui membran permeabel selektif dan masuk ke larutan dengan konsentrasi yang lebih pekat sebanding dengan tekanan turgor. Tekanan osmotik merupakan sifat koligatif, yang berarti bahwa sifat ini bergantung pada konsentrasi zat terlarut, dan bukan pada sifat zat terlarut itu sendiri.

Osmosis adalah suatu topik yang penting dalam biologi karena fenomena ini dapat menjelaskan mengapa air dapat ditransportasikan ke dalam dan ke luar sel.

Source Wikipedia


FOTOSISTEM
Penangkapan Energi Cahaya (Fotosistem)

 Fotosistem merupakan tahap pertama dari proses fotosintesis.
Ketika klorofil menyerap energi foton dari cahaya, elektron pada klorofil akan terlepas ke orbit luar (tereksitasi).
Elektron ini akan ditangkap oleh penerima elektron yaitu plastokuinon.
Jadi unit penangkapan elektron inilah yang disebut dengan fotosistem.
Ketika elektron ditangkap oleh plastokuinon, akibatnya jumlah elektron di dalam klorofil menjadi tidak stabil.
Untuk itu klorofil harus disuplai elektron dari molekul lain.
Dalam waktu yang bersamaan H2O terpecah menjadi 2H+, OH- dan elektron (fotolisis). Elektron dari air inilah yang dipakai untuk menstabilkan klorofil.
Jadi secara sederhana, Unit yang mampu untuk menangkap energi cahaya matahari, yaitu klorofil yang melepaskan elektron dan menyerap foton (energi cahya dengan panjang gelombang yang sesuai), disebut dengan fotosistem.
Dikenal ada 2 macam fotosistem di dalam tilakoid, yaitu fotosistem I dan fotosistem II.
Fotosistem I

 Di dalam fotosistem I, terdapat molekul klorofil yang berada pada pusat reaksi dari fotosistem I dinamakan P700.
Di sebut demikian karena sangat baik menyerap energi cahaya dengan panjang gelombang 700nanometer.

Fotosistem II

 Di dalam fotosistem II, terdapat molekul klorofil yang berada pada pusat reaksi fotosistem II dan dinamakan P680, karena sangat baik menyerap energi cahaya dengan panjang gelombang 680 nanometer.
Proses penyerapan cahaya yang selanjutnya berdampak pada lepasnya elektron dari klorofil, untuk selanjutnya di salurkan dan ditangkap oleh akseptor elektron.
Proses ini merupakan awal dari proses fotosintesis.
Berdasarkan aliran elektron, fotosistem I bersifat siklis dan fotosistem II bersifat nonsiklis.
Untuk jelasnya semua ini akan diuraikan pada tahap selanjutnya yaitu Aliran atau siklus elektron
Baik pada Fotosistem I dan II merupakan suatu unit yang terdiri atas klorofil a, kompleks antene dan akseptor elektron yang mampu menangkap energi cahaya (foton) matahari.
Jika klorofil hanya menyerap cahaya merah, ungu, dan biru kemudian dipantulkan kembali maka terlihat warna hijau.
Warna klorofil dapat berbeda-beda tergantung dari jenis klorofil dan cahaya yang terserap kemudian dipantulkan.
Ada dua macam klorofil, yaitu sebagai berikut.
Klorofil a, yaitu klorofil yang memiliki pigmen warna hijau, pigmen merupakan senyawa kimia yang dapat menyerap cahaya tampak.
Klorofil b, klorofil yang memiliki pigmen warna kuning sampai jingga disebut karoten memiliki struktur mirip dengan klorofil a.
Klorofil a dan pigmen-pigmen lain mengelompok di dalam tilakoid membentuk bangunan unit pigmen, klorofil a terletak di tengah bangunan yang disebut sebagai pusat reaksi.
Klorofil a memperoleh energi cahaya dari akseptor elektron berasal dari sekelompok molekul pada perangkat pigmen yang dapat menangkap elektron cahaya berenergi tinggi disebut antene.
Cahaya yang terserap klorofil a merupakan cahaya yang berenergi tinggi, sehingga dapat menyebabkan terlemparnya elektron yang ada pada pigmen.
Elektron yang terlempar keluar orbit berada dalam keadaan tidak stabil yang menyimpan energi tinggi disebut tereksitasi.
Dalam keadaan demikian, klorofil berusaha mensuplai elektron dari molekul lain dan dalam waktu bersamaan H2O terpecah menjadi 2H+, OH- dan elektron (fotolisis), elektron dari air ini diambil untuk menstabilkan keadaan klorofil kembali.
Pada klorofil a terdapat dua macam fotosistem, yaitu fotosistem I atau disebut P700 karena sensitif terhadap energi cahaya dengan panjanggelombang 700 nm
Dan fotosistem II atau disebut P680 yang sensitif terhadap energi cahaya dengan panjang gelombang 680 nm.
Proses penyerapan energi cahaya dapat mengakibatkan terlepasnya elektron berenergi tinggi dari klorofil a, selanjutnya disalurkan dan ditangkap oleh akseptor elektron, maka proses tersebut merupakan awal dari proses terjadinya proses fotosintesis.
Proses berikutnya elektron masuk dalam aliran elektron, jika elektronnya berasal dari fotosistem I bersifat nonsiklus dan apabila elektronnya berasal dari fotosistem II bersifat siklus.
Aliran Elektron pada FOTOSISTEM

Perjalanan yang ditempuh oleh elektron ada dua yaitu sebagai berikut.
Cahaya berenergi tinggi yang terserap klorofil a dapat menyebabkan elektron (e-) berasal dari fotosistem I atau P700 terlempar keluar orbitnya.
Pada saat perjalanan elektron (e-) berasal dari P700 yang terlempar keluar orbit tersebut lalu ditangkap oleh akseptor penerima elektron seperti plastokuinon atau sitokrom.
Kemudian elektron itu pindah ke akseptorlain, lalu pindah kembali ke klorofil P700 semula.

Gambar Pembentukan ATP melalui fotofosforilasi siklik

Selama proses perpindahan dari akseptor satu ke akseptor lain terdapat energi yang terlepas dari elektron, energi tersebut digunakan dalam fotofosforilasi siklik dengan produk akhir berupa ATP, dan tidak dihasilkan NADPH serta O2.
ATP digunakan sebagai energi yang dapat dimanfaatkan dalam proses biologis sel-sel organisme, seperti yang telah kita pelajari sebelumnya.
Dalam hal ini ATP berguna dalam pembentukan karbohidrat.
Perlu Anda ketahui sintesis ATP dalam kloroplas disebut sebagai fotofosforilasi .
Apa yang dimaksud fotofosforilasi? Fotofosforilasi adalah peristiwa bereaksinya senyawa ADP dan asam fosfat menjadi ATP, seperti berikut.
ADP + Pi ---> ATP

ALIRAN FOTOSISTEM II NON SIKLIK
Perjalanan aliran elektron fotosistem II, elektronnya (e-) juga berasal dari P700.
Elektron (e-) yang terlempar keluar orbit dan ditangkap oleh akseptor elektron yaitu NADPH2 kemudian elektron (e-) bersamaan dengan 2H- berasal dari pecahan H2O mengikuti jalannya elektron siklik pindah ke akseptor lain seperti plastosianin atau feredoksin.
Selanjutnya elektron itu pindah dan tidak kembali ke klorofil P700, tetapi mengalir melalui membran tilakoid.
Dengan pelepasan elektron tersebut, maka P700 menjadi molekul yang teroksidasi sehingga menyedot elektron dari P680 berenergi tinggi yang berasal dari energi cahaya (foton) matahari.
Molekul NADPH2 dan ATP yang berenergi tinggi digunakan untuk mengubah CO2 dan H2O menjadi produk gula (seperti glukosa, maltosa, fruktosa dan amilum) dan O2.
Proses pembentukan gula (karbohidrat) dapat Anda lihat pada siklus Calvin.

FOTOFOSFORILASI SIKLIK DAN NON SIKLIK
Fotofosforilasi Siklik


Fotosintesis adalah proses anabolisme , membentuk senyawa kompleks Glukosa dari senyawa sederhana CO2 . Proses memrlukan enrgi dari energi matahari berupa Foton .

 Energi foton yang digunakan untuk menggerakkan elektron melawanan gradient panas di dalam fotosistem I dari sebuah agen dengan tenaga reduksi kuat, yang secara termodinamis mampu mereduksi CO2 di dalam fotosistem II dari air dengan pelepasan O2, jika sebuah molekul pigmen menyerap sebuah foton masuk ke dalam sebuah keadaan tereksitasi, karena satu elektronnya pada keadaan dasar pindah ke orbit

Foton uang digunakan dalam fotosintesis ini dengan panjang gelombang 700 nm dan 680 nm berupa sinar merah adalah foton yang efektif untuk fotosintesis.
Pada proses phisiologi ini foton tersebut di tangkap oleh seperangkat sistem penerima foton disebut Fotosistem
Fotosistem itu meliputi PS I dan PS II yang semua perangkat itu ada di daun / grana (tilakoid)

Reaksi fotofosforilasi siklik adalah reaksi yang hanya melibatkan satu fotosistem, yaitu fotosistem I yang antinya Fotosistem ini menghasilkan ATP
Fotosistem I atau Photosistem I (PS I ) ini disebut Fotosistem Siklik  .
Dalam fotofosforilasi siklik, pergerakan elektron dimulai dari fotosistem I dan berakhir di fotosistem I.
Pertama, energi cahaya, yang dihasilkan oleh matahari, membuat elektron-elektron di P700 tereksitasi (menjadi aktif karena rangsangan dari luar), dan keluar menuju akseptor elektron primer kemudian menuju rantai transpor elektron.
Karena P700 mentransfer elektronnya ke akseptor elektron, P700 mengalami defisiensi elektron dan tidak dapat melaksanakan fungsinya.
Selama perpindahan elektron dari akseptor satu ke akseptor lain, selalu terjadi transformasi hidrogen bersama-sama elektron.
Rantai transpor ini menghasilkan gaya penggerak proton, yang memompa ion H+ melewati membran, yang kemudian menghasilkan gradien konsentrasi yang dapat digunakan untuk menggerakkan sintase ATP selama kemiosmosis, yang kemudian menghasilkan ATP.
Dari rantai transpor, elektron kembali ke fotosistem I.
Dengan kembalinya elektron ke fotosistem I, maka fotosistem I dapat kembali melaksanakan fungsinya.
Fotofosforilasi siklik terjadi pada beberapa bakteri, dan juga terjadi pada semua organisme fotoautotrof.

Fotofosforilasi Non-Siklik
Reaksi fotofosforilasi nonsiklik adalah reaksi dua tahap yang melibatkan dua fotosistem klorofil yang berbeda, yaitu fotosistem I dan II. Dalam fotofosforilasi nonsiklik, pergerakan elektron dimulai di fotosistem II, tetapi elektron tidak kembali lagi ke fotosistem II.

Mula-mula, molekul air diurai menjadi 2H+ + 1/2O2 + 2e-.
Dua elektron dari molekul air tersimpan di fotosistem II, sementara ion H+ akan digunakan pada reaksi yang lain dan O2 akan dilepaskan ke udara bebas.
Karena tersinari oleh cahaya matahari, dua elektron yang ada di P680 menjadi tereksitasi dan keluar menuju akseptor elektron primer.
Setelah terjadi transfer elektron, P680 menjadi defisiensi elektron, tetapi dapat cepat dipulihkan berkat elektron dari hasil penguraian air tadi.
Setelah itu mereka bergerak lagi ke rantai transpor elektron, yang membawa mereka melewati pheophytin, plastoquinon, komplek sitokrom b6f, plastosianin, dan akhirnya sampai di fotosistem I, tepatnya di P700.
Perjalanan elektron diatas disebut juga dengan "skema Z".
Sepanjang perjalanan di rantai transpor, dua elektron tersebut mengeluarkan energi untuk reaksi sintesis kemiosmotik ATP, yang kemudian menghasilkan ATP.
Sesampainya di fotosistem I, dua elektron tersebut mendapat pasokan tenaga yang cukup besar dari cahaya matahari.
Kemudian elektron itu bergerak ke molekul akseptor, feredoksin, dan akhirnya sampai di ujung rantai transpor, dimana dua elektron tersebut telah ditunggu oleh NADP+ dan H+, yang berasal dari penguraian air.
Dengan bantuan suatu enzim bernama Feredoksin-NADP reduktase, disingkat FNR, NADP+, H+, dan elektron tersebut menjalani suatu reaksi:
NADP+ + H+ + 2e- —> NADPH
NADPH, sebagai hasil reaksi diatas, akan digunakan dalam reaksi Calvin-Benson, atau reaksi gelap.

Fotofosforilasi siklik dan fotofosforilasi nonsiklik memiliki perbedaan yang mendasar, yaitu sebagai berikut

NADP (nikotinamida adenin dinukleotida fosfat)


ARTIKEL ENTOMOLOGI (struktur internal dan eksternal serangga)


ARTIKEL ENTOMOLOGI
Struktur Internal dan Eksternal Serangga

NAMA : AINI RIZKIANA
NIM : 1005015068
PRODI : PENDIDIKAN BIOLOGI ‘10
FAKULTAL KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN UNIVERSITAS MULAWARMAN 2012
A.    Struktur internal serangga
Anatomi luar serangga meskipun pada dasarnya sama pada semua jenis serangga, tetapi ada keragaman menurut jenisnya dan dalam satu jenis serangga menurut tahap perkembangannya.
Serangga pada umumnya ringan dan memiliki eksoskeleton atau integumen yang kuat. Jaringan otot dan organ-organ terdapat di dalamnya. Di seluruh permukaan tubuhnya, integumen serangga memiliki berbagai syaraf penerima rangsang cahaya, tekanan, bunyi, temperatur, angin dan bau.
Pada umumnya serangga memiliki 3 bagian tubuh yaitu kepala, toraks (“dada”) dan abdomen (“badan”). Kepala berfungsi sebagai tempat dan alat masukan makanan dan rangsangan syaraf , serta untuk memproses informasi (otak). Berbagai macam bagian mulut serangga seperti: pengunyah (Orthoptera, Coleoptera, ulat Lepidoptera, penusuk-pengisap (kutu daun, walang sangit, nyamuk), spons pengisap (lalat), belalai-sifon (kupu-kupu dang ngengat).
Toraks yang terdiri atas tiga ruas memberikan tumpuan bagi tiga pasang kaki (sepasang pada setiap ruas), dan jika terdapat sayap, dua pasang pada ruas kedua dan ketiga. Bentuk kaki bervariasi menurut fungsinya seperti untuk menggali (jangkrik, Gryllidae), menangkap (walang sembah, Mantidae), untuk berjalan (semut, Formicidae) dsb.
Fungsi utama abdomen adalah untuk menampung saluran pencernaan dan alat reproduksi. Anatomi internal serangga dicirikan oleh peredaran darah terbuka, adanya saluran-saluran atau pipa pernapasan dan tiga bagian saluran pencernaan.
Serangga memiliki  dinding tubuh yang disebut integumen. Integumen ini berperan sebagai kerangka luar (eksoskleleton). Anatomi Luar Integumen.
Integumen terdiri dari tiga lapisan utama, yaitu :
·         Lapisan dasar (basement membrane) dengan ketebalan kurang lebih  1 m.
·         Epidermis atau hipodermis yang mempunyai ketebalan satu sel.
·         Lapisan kutikula yang tebalnya kurang lebih 1m.
Bagian-bagian mulut serangga dapat diklasifikasikan menjadi 2 tipe umum, mandibulat (pengunyah) dan haustelat (penghisap). Pada bagian mulut pengunyah, mandibel-mandibel bergerak secara transversal, artinya dari sisi ke sisi, dan serangga tersebut biasanya mampu menggigit dan mengunyah makanannya. Serangga-serangga dengan bagian-bagian mulut penghisap tidak mempunyai mandibel dari tipe ini dan tidak dapat mengunyah makanan. Bagian mulut mereka ada dalam bentuk seperti probosis yang panjang atau paruh melalui alat itu makanan cair dihisap. Mandibel pada bagian mulut penghisap mungkin memanjang dan berbentuk stilet atau tidak ada (Borror et.al, 1992).
Untuk mengetahui tentang struktur serangga diperlukan identifkasi. Salah satu perbedaan yang menyolok antara serangga dengan manusia adalah kerangkanya.
Kulit serangga mengeras seperti baju besi yang melindungi bagian dalam serangga dan berfungsi sebagai kerangka, kerangka seperti ini disebut Exoskelaton.
Pada manusia dan binatang bertulang belakang (vertebrata)kerangka ada didalam kulit atau disebut Endoskelaton, bagian luar serangga yg mengeras tersebut beruas-ruas yg satu dengan yg lain dihubungkan oleh bagian yg fleksibel yg memungkinkan utk. Bergerak/berkembang, penghubung ini desebut Intersegmental membranes.

B.     Struktur internal serangga
·         Sistem respirasi (pernafasan)
Sistem resperasi serangga merupakan sistem percabangan hawa (trachea), trachea biasanya memanjang sepanjang tubuh serangga. Melalui cabang2 trachea yg lebih kecil (tracheole) udara masuk kejaringan tubuh. Udara digerakan dengan cara mengembangkan dan mengempiskan trachea. Beberapa serangga dpt. mengatur aliran udara dgn. Mengambil udara melalui anterior spiracle dan mengeluarkan melalui posterior.

·         Sistem pencernaan
Sistem pencernaan pada serangga disesuaikan dengan makanan yg bermacam2 tsb. Untuk diubah menjadi karbohidrat,lemah dan protein.
Sistem pencernaan terdiri dari sebuah saluran pencernaan yg menyerupai tabung bermula dari mulut dan berakhir pada anus. Saluran ini dibagi dalam tiga bagian :
·         Stomodeum (foregut) terdiri dari rongga mulut dan kelenjar ludah, epi-faring dan hipo-faring, faring proventculus digunakan untuk menyimpan makanan (tembolok) dimana makanan digiling lebih halus.
·         Mesenteron atau mit-gut, terdiri dari lambung sebagai tempat pencernaan makanan.
·         Proctodeum ( hind-gut) sebagai tempat penampungan makanan yag tidak dapat dicerna dibuang melalui anus .

·         Peredaran darah
Sistem peredaran darah serangga merupakan sistem peredaran darah terbuka, artinya darah tidak masuk dalam pembuluh darah ,melainkan darah beredar bebas keseluruh tubuh serangga. Darah meresap ke jantung atau pembuluh darah dorsal melalui klep (astia) dan dipompa kedaerah kepala melalui aorta, dari daerah kepala darah mengalir kebagian belakang,
Darah tidak berwarna atau kuning kehijauan , hanya sedikit serangga yg mempunyai darah berwarna merah karena haemoglobine.


·         Sistem syaraf
Sistem syaraf pada serangga terdapat pada jaringan dan organ yg menyerupai pada binatang yg tingkatnya lebih tinggi.
Otak terdapat pada kepala diatas osophagus yang dihubungkan sub osophageal ganglion dengan dua syaraf yg melingkari aesophagoes. Urat syaraf terdapat pada bagian depan ventral dari arah kepala ke arah belakang.

·         Reproduksi serangga
Serangga jantan memiliki dua testes dan sebuah penis, sedangkan serangga betina mempunyai dua ovarium.

·         Siklus serangga hidup
Metamorfosa adalah. Perubahan2 yang terjadi selama masa pertumbuhan dan perkembangan dari serangga.
Ada tiga jenis metamorfosa dlm.kehidupan serangga. yaitu:
·         Ametamorfosa yaitu. Suatu metamorfosa dengan perubahan2 dalam siklus hidup serangga yang tidak nyata. Telur menetas menjadi nimfa, nimfa kemudian mnjadi dewasa.
·         Metamorfosa sederhana (simple metamorphosis, incomplete metamorphosis, heterometabola) dari telur dan fase dewasa terdapat fase-fase nimfa yg bertingat (instar).
·         Metamorfosa sempurna. Disebut complex metamorphosis atau holometabola. Adalah: fase siklus hidup serangga yg mempunyai perbedaan yg nyata pada stadiumnya. Telur,larva,pupa,dewasa.

DAFTAR PUSTAKA

ARTIKEL ENTOMOLOGI (Ordonata)



ARTIKEL ENTOMOLOGI
Ordo Ordonata



NAMA : AINI RIZKIANA
NIM : 1005015068
PRODI : PENDIDIKAN BIOLOGI ‘10
FAKULTAL KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN UNIVERSITAS MULAWARMAN 2012
Ordo Odonata

Odonata merupakan salah satu ordo serangga yang sejak awal berbeda dalam penentuan nama ordonya dengan serangga lain. Klasifikasi serangga yang dilakukan oleh Fabricius pada tahun 1775-an menunjukkan bahwa semua serangga digolongan ke dalam ordo yang berbeda-beda berdasarkan sayapnya kecuali Odonata, yaitu berdasarkan giginya.
Perkembangan ilmu pengetahuan yang ada saat ini telah memungkinkan terjadinya perubahan ordo serangga di dunia yang tidak hanya didasarkan pada bentuk sayap semata. Menurut Wiliam & Felmate (1992), Ordo Odonata terdiri atas  Capung (Dragonflies) dan Capung Jarum (Damselflies) yang terbagi menjadi tiga subordo yaitu Anisoptera (8 famili), Zygoptera (17 famili), dan Anisozygoptera (1 famili; 10 famili telah punah). Spesies Odonata di dunia yang telah terindetifikasi sekitar ± 7.000 spesies. Banyaknya spesies serangga ini di bumi telah mengilhami para peneliti melakukan berbagai research yang digunakan untuk kepentingan manusia dengan model Odonata.
Di Indonesia memang belum banyak kajian mengenai hal ini, oleh karena itu dengan kegiatan Pameran Foto, Peluncuran Buku, dan Seminar Pelestarian Odonata sebagai Pusaka Alam Indonesia oleh DDS ini akan sangat mendukung berkembangnya penelitian-penelitian Odonata di Indonesia.
Kajian mengenai metamorfosis Odonata merupakan salah satu pembahasan yang cukup menarik untuk diketahui sehubungan dengan keberlangsungan hidupnya. Metamorfosis merupakan salah satu hal yang pasti terjadi pada kehidupan semua serangga. Serangga memiliki dua tipe metamorfosis yaitu metamorfosis tidak sempurna (Ametabola, Hemimetabola, Paurometabola) dan metamorfosis sempurna (Holometabola). Odonata mewakili metamorfosis tidak sempurna dengan pertumbuhan Hemimetabola. Pengamatan morfologi eksternal yang dapat dilakukan adalah melihat kekhasan perubahan bentuk dari kecil ke dewasa.

MORFOLOGI           
Memiliki anggota yang cukup besar dan mudah dikenal. Sayap dua pasang dan bersifat membranus. Pada capung besar dijumpai vena-vena yang jelas dan pada kepala dijumpai adanya mata facet yang besar.
Metamorfose tidak sempurna (Hemimetabola), pada stadium larva dijumpai adanya alat tambahan berupa insang dan hidup di dalam air.
Anggota-anggotanya dikenal sebagai predator pada beberapa jenis serangga kecil yang termasuk hama, seperti beberapa jenis trips, wereng, kutu loncat serta ngengat penggerek batang padi.


Ciri-ciri Ordo Odonata:
1.      Mempunyai dua pasang sayap
2.      Tipe mulut mengunyah
3.      Metamorfosis tidak sempurna
4.      Terdapat sepasang mata majemuk yang besar
5.      Antenanya pendek
6.      Larva hidup di air
7.      Bersifat karnivora
Contohnya :
·         Capung (Aeshna sp)

Kingdom : Animalia
Phylum : Arthropoda
Class : Hexapoda
Order : Odonata
Suborder: Anisoptera
Family : Aehnidae
Genus : Aeshna
Species : Aeshna sp
Deskripsi :
Memiliki dua pasang sayap bermembran, mulut tipe mengigit, mata majemuk, kaki 3 pasang pada thorax. (Oemarjati, 1991).
·         Capung besar (Epiophlebia)

Disumber lain dikatakan, kata odonata berasal dari yunani yang artinya bergigi. Serangga dengan panjang dan tubuh yang ramping. Sayap memanjang dan berantena dan bervena banyak serta membraneus. Sayap depan dan sayap belakangnya hampir sama bentuk dan ukuran. Antenna pendek seperti bulu yang keras. Saat istirahat sayap dikatupkan di atas tubuh atau kadang hanya dibentangkan. Metamorphosis hemimetabola. Serangga ini biasanya melakukan perkawinan saat terbang. Nimfa dan imagonya merupakan predator hama. Ordo odonata dibagi dua subordo yaitu anisoptera dan zigoptera. Contohnya capung raksasa dan capung jarum.
DAFTAR PUSTAKA

ARTIKEL ENTOMOLOGI (Ordo Orthoptera)



ARTIKEL ENTOMOLOGI
Ordo Orthoptera


NAMA : AINI RIZKIANA
NIM : 1005015068
PRODI : PENDIDIKAN BIOLOGI ‘10
FAKULTAL KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN UNIVERSITAS MULAWARMAN 2012

Ordo Orthoptera

Othoptera berarti bersayap lurus, serangga yang tergolong dalam ordo ini melipatkan sayapnya pada saat istirahat secara lurus di atas tubuhnya. Ukuran tubuh sedang sampai besar. Banyak diantaranya yang menjadi hama tanaman pertanian, ada pula yang bersifat sebagai predator.
Bentuk tubuh bulat panjang dengan kepala hypognathus. Mata majemuk jelas dan besar dengan dua atau tiga mata tunggal (ocelli) atau juga tanpa mata tunggal. Antena relatif panjang dan banyak spesies yang antenanya melebihi panjang tubuhnya dengan ruas yang banyak. Mulut bertipe penggigit pengunyah. Dada mengalami pengerasan yang kuat. Pada Orthoptera, serangganya ada yang bersayap ada juga yang tidak bersayap. Serangga yang bersayap terdiri dua pasang sayap. Sayap depan memanjang mempunyai jejari (vena) sayap yang banyak dan teksturnya menebal agak kaku disebut tegmina. Tekstur sayap belakang seperti selaput dan lebar dengan banyak jejari. Tungkai belakang lebih besar dan panjang daripada kedua tungkai yang depan. Tungkai tersebut dengan femur yang besar untuk meloncat (tipe saltatorial). Terdapat pula dengan jenis dengan tungkai besar dan lebar berfungsi untuk menggali (tipe fossorial) pada Gryllotalpidae.
Abdomen umumnya terdiri atas banyak ruas. Pada Orthoptera yang menghasailkan suara biasanya terdapat timpana pada ruas abdomen pertama (misal belakang). Ovipositor pada beberapa jenis bentuknya panjang seperti jarum, tetapi pada beberapa jenis yang lain pendek dan tersembunyi. Ada pula yang bentuknya seperti pedang. Perkembangbiakannya secara perkawinan dan mengalami metamorphosis sederhana. Serangga muda dan dewasa mempunyai habitat dan makanan yang sama. Umumnya fitofag dan beberapa zoofag dan bahkan ada yang bersifat kanibal.
Ordo Orthoptera dibagi menjadi 6 subordo yaitu subordo Caelifera, Ensifera, Mantodae, Phasmatodae, Blattodae dan Grylloblattodae. Dari 6 subordo dibagi menjadi famili antara lain beberapa disebutkan di bawah ini dengan contoh spesiesnya, yang erat hubungannya dibidang pertanian baik sebagai hama atau predator.

Ciri umum Orthoptera adalah salah satu ordo dari kelas Insecta :
·         Tubuh bersegmen /beruas/berbuku buku
·         Tersusun atas segmen kepala ( Chepalo) , segmen dada ( Thorax) dan segmen perut ( Abdomen) shingga ke tiga segmen itu terpisah
·         Jumlah kaki 3 pasang , berada di bagian dada ( Thorax) maka disebut Hexapoda
·         Di bagian Thorax juga di lengkapi sayap
·         Tripoblastik Selomata
·         Simetri bilateral
·         Eksoskeleton
·         Bersegmen
·         Sistem pencernaan : mulut, esophagus, lambung, usus, dan anus
·         Sistem respirasi : insang / paru-paru / trakea
·         Sistem ekskresi : saluran / tubula Malpighi
·         Sistem saraf : tangga tali
·         Sistem gerak : otot dan rangka eksokeleton
·         Sistem reproduksi : Aseksual : parthenogenesis, Seksual : gamet (dioseus)
·         Sistem sirkulasi : sistem peredaran terbuka (jantung, pembuluh pendek, sinus / hemosol, hemolimfe) artinya darah beredar di luar pembuluh sehingga darah bergerak bebas dari hempasan jantung keluar jantung ke sel seluruh tubuh dan kembali ke jantung dengan tekanan otot tubuh
·         Darah hanya membawa Sari makanan tanpa Oksigen karena O2 bisa langsung akses ke sel tubuh karena dialirkan ke Tracheo hingga ke sel
·         Darah tidak berwarna merah karena tidak mempunyai Hb karena memang tidak diperlukan OK
Ciri khas Ordo Orthoptera
·         Termasuk Exopterygota
·         Sebagian anggotanya dikenal sebagai pemakan tumbuhan, namun ada beberapa di antaranya yang bertindak sebagai predator pada serangga lain dan ada yang sebagai hama-hama pada tanaman budidaya
·         Beberapa adalah pemangsa dan sedikit sebagai pemakan bahan organik yang membusuk, dan beberapa lagi sebagai omnivora.
·         Orthoptera ada yang bersayap dan ada yang tidak bersayap, yang bersayap biasanya mempunyai empat buah sayap.
·         Sayap depan Orthoptera ini khas biasanya memanjang lebih sempit , memilki banyak rangka dan agak menebal, yang biasa disebut tegmina.
·         Sayap belakang berselaput tipis (membranus) dan melebar dengan vena-vena yang teratur dan banyak rangka-rangka sayap.
·         Ketika istirahat biasanya sayap belakang dilipat seperti kipas dibawah sayap depan.
·         Tubuhnya memanjang, sersi bagus, antena relatif panjang dan memiliki banyak ruas.
·         Tungkai belakang saltatorial, yang digunakan untuk meloncat.
·         Beberapa dari serangga ini dikenal dengan serangga penyanyi (belalang dan jengkerik) Suara ini biasanya digunakan untuk memanggil betina dan sebagai perilaku agresif yang menunjukan daerah kekuasaan
·         Suara dihasilkan dari gesekan satu bagian tubuh kebagian lainnya. Nyanyian-nyanyian belalang dan jengkerik mempengaruhi tingkah laku mereka.
·         Betina dari Orthoptera mempunyai suara yang empuk, tetapi kebanyakan nyanyian dilakukan oleh yang jantan.
·         Orthoptera kebanyakan hanya bernyanyi pada malam hari.
·         Ada mulutnya bertipe penggigit dan penguyah
·         pada mulutnya memiliki bagian-bagian labrum, sepasang mandibula, sepasang maxilla dengan masing-masing terdapat palpus maxillarisnya, dan labium dengan palpus labialisnya.
·         Metamorfosisnya tidak sempurna
Alat-alat tambahan lain pada caput antara lain :
·         dua buah (sepasang) mata facet,
·         sepasang antene,
·         tiga buah mata sederhana (occeli).
Thorax terdapat
·         Dua pasang sayap
·         tiga pasang kaki (Hexapoda)
Abdomen
·         Pada segmen (ruas) pertama abdomen terdapat suatu membran alat pendengar yang disebut tympanum.
·         Spirakulum (Spirakel ) atau stigma yang merupakan alat pernafasan luar , berupa lobang masuknya oksigen yang terdapat pada tiap-tiap segmen abdomen maupun thorax.
·         Anus dan alat genetalia luar dijumpai pada ujung abdomen (segmen terakhir abdomen).
Contoh :
1.      Blatta orientalis (kecoak)

2.      Manthis religiosa (belalang sembah)

3.      Valanga nigricornis Drum. ( belalang kayu)

4.      Gyrlius domestica (jangkrik)

5.      Gyrllotalpa hirsute (anjing tanah)

6.      Branchytrupes (gangsir)


Kelompok ini memiliki kemampuan perubahan metamorfosis pada perkembangan menuju dewasa secara tidak sempurna ( hemimetabola)
Metamorfosis tidak smpurna ini sering disebut Metamorfose sederhana (paurometabola) dengan perkembangan melalui tiga stadia yaitu telur - nimfa - dewasa (imago).
Bentuk nimfa dan dewasa terutama dibedakan pada bentuk dan ukuran sayap serta ukuran tubuhnya.
Klasifikasi Orthoptera, contoh Jangkrik.

Kingdom : Animalia
Phylum : Arthropoda
Classis : Insecta
Ordo : Orthoptera
Familia : Grillidae
Genus : Gryllus
Species : Gryllus sp
Bahasa daerah : Jangkrik
Metamorfosis Orthoptera

Perkembangan serangga ini berubah secara bertahap dalam bentuk luarnya dari telur sampai bentuk dewasa.
·         Bentuk pradewasa disebut nimfa, mempunyai kebiasaan serupa dengan yang dewasa.
·         Kelompok serangga ini disebut juga Paurometabola.
·         contoh belalang (Orthoptera)

Blatta orientalis (kecoak) dengan Hemimetabola

DAFTAR PUSTAKA